TpzpTUC8TSAlBSC6TUG6GSYlGY==

Taman Tempat Memendam Rindu

Penulis: Gede Prama

Setiap kali ada pergeseran musim, terutama dari musim kemarau ke musim hujan, mendadak sontak ada kegembiraan yang muncul tiba-tiba. Setiap mata yang dibekali kejernihan, setiap telinga yang bersahabat dengan kepekaan, setiap rasa yang sering bersahabat dengan getaran-getaran semesta, melihat munculnya kegembiraan ketika musim hujan datang. Kegembiraan ini memang tidak disertai oleh tepuk tangan, tidak diikuti suara musik, apa lagi pemberian piala. Sekali lagi hampir tidak ada hiruk pikuk di sana.Yang ada hanyalah ungkapan-ungkapan kegembiraan sebagai cermin rasa syukur yang mendalam.

Perhatikan pohon apa saja. Lengkap dengan akar, batang, daun, bunga sampai dengan buah. Wajahnya berbeda ketika musim hujan datang. Bahkan dibandingkan dengan pohon yang disiram tangan manusia tiga kali seharipun, berbeda penampakannya. Tidak saja daun dan bunganya yang bertambah banyak, melainkan kualitas ekspresi daun dan bunganya juga berbeda. Tidak saja akar yang memeluk tanah yang tampak gembira, bahkan tanah tempat banyak sekali hal berasal juga seperti menampakkan wajah-wajah gembira. Sehingga dalam totalitas, ketika musim hujan tiba, seperti ada yang bersuara di taman sana. Ada yang menyebutnya suara rindu, ada yang mengiranya sebagai ungkapan rasa syukur, ada yang mengatakan kalau itu sebentuk perayaan.

Entahlah, yang jelas alam yang berumur jauh lebih panjang dari manusia sebenarnya menghadirkan makna jauh lebih banyak dari sekadar alasan keberadaan fisik manusia. Memang benar, hampir semua input kehidupan manusia datang dari alam. Makanan, minuman, dan bahkan pemikiran manusiapun sebagian lebih berasal atau terinspirasi dari alam. Disinari cahaya-cahaya pemahaman seperti ini, ada sahabat yang berbisik : alam ada lebih dari sekadar alasan phisical survival. Alam juga menjadi petunjuk jalan yang meyakinan ketika manusia mau pulang.

Tersentak oleh bisikan sahabat kejernihan terakhir, ada sepasang mata yang mencermati, bagian mana dari alam yang bisa menjadi petunjuk jalan manusia untuk pulang ? Pohonkah, batukah, tanahkah, langitkah, matahari, atau malah binatang ? Karena semuanya memiliki bahasa yang berbeda dengan manusia, tentu saja semuanya tidak bisa memberi jawaban dalam bahasa manusia. Sebagian lebih dari jejaring semesta bahkan hanya mengenal bahasa hening dan diam tanpa penghakiman. Seperti mau berbisik : hening dan diam tanpa penghakiman itulah jalan-jalan menghantar manusia pulang.

0 Comments

Responsive Banner Slot
Responsive Banner Slot
Responsive Banner Slot

Popular Post