Ketika sore menjelang Sang Aku mendatangi Hati Kecil untuk mulai berbincang - bincang sore mengenai topik keyakinan beragama, baik atau buruk. Sore itu Hati Kecil sedang duduk dalam keheningan sambil minum susu yang berwarna hitam pekat.
Pertanyaan - pertanyaan kecil mulai terdengar dan dengan tersenyum Hati Kecil menjadi pendengar yang baik.
Sang Aku : “Kemarin aku menonton televisi saya melihat ada tindakan anarki meng-atas-nama-kan agama, betapa bangganya mereka berteriak, bertindak anarki sambil mengucapkan kata-kata suci. Apakah itu benar atau salah ?”
Hati Kecil : Tersenyum sambil berbicara, “Bagaimana menurut Tuanku ?”
Sang Aku : “Entahlah bangunan hancur, api membakar, pecahan kaca dan lainnya. Aku tidak menyukai hal ini.” (diam sejenak sambil minum kopi putih)
Hati Kecil : “Menurut tuanku apakah itu agama. Apakah hanya aturan atau ketulusan ?”
Sang Aku : “Apakah yang engkau maksudkan ?”
Hati Kecil : Dengan tersenyum menjawab “Saya tidak bermaksud apa-apa tapi hanya ingin bertanya dengan kedua jawaban tadi”
Sang Aku : “Ya kalau aku sih agama adalah ketulusan, entah bagi orang lain”
Hati Kecil : “Apakah jawaban tuanku menuju kedalam atau ke luar diri ?”
Sang Hati : Dengan muka bingung meminta nasehat “Bisakah engkau menjelaskan ?”
Hati Kecil : “Kalau agama adalah ketulusan dan menuju kedalam diri merupakan ketulusan seseorang ingin mendalami agama untuk kebahagian semua dan diri sendiri. Menaburkan cinta, persahabatan, persaudaraan, saling menghormati, pemurnian diri, kesabaran dan kasih sayang kepada seluruh mahluk hidup. Baginya hidup adalah harmonisasi, bukan pemaksaan, bukan pembunuhan, bukan tindakan anarki apapun alasannya. Kalau ketulusan menuju keluar diri merupakan alasan ketulusan seseorang ingin mendalami agama dengan imbalan tertentu, mungkin juga termasuk nama besar. Biasanya orang seperti ini sering berteriak tentang kebenaran berdasarkan agama sebagai alasannya. Baginya dikenal banyak orang, menunjuk-nunjukan jari telunjuk pada saat berteriak tentang kesalahan orang lain, merasa hebat mengusai agama. Padahal tiga jari yang lain menunjuk diri sendiri, yang menunjukkan bahwa ia memiliki lebih banyak kekurangan dan kesalahan. Ah begitulah … selalu dan selalu merasa luar biasa.”
Dari perbincangan dapat diambil makna bahwa fanatisme agama tidak hanya bermakna negatif namun dapat juga bermakna positif.
Ketika fanatisme agama menuju kedalam diri, pembenahan-pembenahan diri dan pintu hati akan terbuka menuju kebebasan. Membimbing diri untuk menuju sikap berbuat, berkata dan berpikir yang baik tanpa memperhitungkan hasil. Menghargai perbedaan, saling menghormati, kasih sayang dan tindakan positif lainya akan membimbingnya menuju kebebasan.
Ketika fanatisme agama menuju keluar diri, rasa ingin menunjukkan diri adalah orang yang paling hebat dalam menjalankan agama, paling benar dan sebagainya. Selalu meminta balasan walaupun secara tidak langsung atas tindakan baiknya. Menganggap orang lain dan agama yang dianut adalah lebih rendah. Sikap radikalisme, tidak menghargai perbedaan, kebencian terhadap orang lain dan tindakan negatif lainnya akan membimbingnya menuju keterikan dan kutukan.
Kemanakah fanatisme agama anda akan diarahkan ?
Catatan Pembaca :
Tulisan ini hanya pertanyaan dan hasil perbincangan antara Sang Aku dengan Hati Kecil. Sebelumnya maafkan saya yang saya tekankan hanya saja mereka berdua yang berbincang tentang sekitar mereka. Mulai hari ini dan hari-hari selanjutnya.
Admin Web
0 Comments