Penulis: Gede Prama
Berbeda tempat memang berbeda tradisi. Dan itulah kekayaan kehidupan yang tidak perlu membuat manusia jadi bermusuhan. Dalam tradisi yang pernah saya pelajari, sungai adalah jalan-jalan mulia di mana ciptaan Tuhan yang bernama air itu berjalan. Lebih dari sekadar cekungan tanah yang terbentuk secara alamiah tanpa intervensi tangan manapun, sungai lebih menyerupai cermin kejernihan manusia yang hidup di pinggirnya. Di mana sungai itu bersih, jernih dan tertata rapi, di sanalah hidup serangkaian manusia yang pikiran dan hatinya juga bersih dan jernih.
Oleh karena alasan terakhirlah, ada yang terganggu di dalam sini, kalau kali pinggiran rumah terlihat kotor dan jorok. Tidak hanya mata dan pikiran, suasana hati juga ikut terganggu. Kadang ada anggota keluarga yang mengeluh, kalau saya terlalu terpengaruh oleh lingkungan luar. Dan apapun keluhan dan kritiknya, toh tidak bisa menyembuhkan badan yang demikian pekanya akan perlambang-perlambang alam sekitar. Kadang timbul rasa cemburu ke teman-teman yang tidak terpengaruh sama sekali dengan lingkungan sekitar.
Apapun alasan serta keluhannya, inilah badan yang menjadi kendaraan kehidupan. Dengan badan seperti itu, mudah dimaklumi kalau tiba-tiba 12 Oktober 2002 ketika bom meledak di Bali sana, ada bagian-bagian tertentu dari tubuh ini seperti hancur lebur tidak tergantikan. Tidak ada sahabat, keluarga dekat atau keluarga jauh yang meninggal di sana. Tetapi sahabat atau bukan, keluarga atau tidak bukanlah pembatas yang bisa menunda jatuhnya air mata. Ada bagian tertentu dari sungai kehidupan saya yang ikut tersimbah darah dari kejadian ini.
Bali sebagai tempat lahir memang menentukan dalam hal ini. Dan yang lebih menentukan, kenapa kebencian menjadi sungai yang tidak mengenal musim ? Dalam musim manapun, dalam sejarah manapun, dalam angka-angka tahun manapun, dalam era penguasa yang manapun, selalu sungai kebencian dipenuhi oleh warna-warna merah darah. Meledaknya bom di Bali, hanyalah salah satu saja dari warna-warna merah darah sungai kebencian.
Sebagaimana sungai sebenarnya, warna darah tidak hanya bercecer di sekitar kejadian, ia telah dan akan mengalir ke rangkaian sungai waktu yang panjang. Bagi yang tersakiti, ia menghadirkan energi-energi dendam yang hanya menunggu waktu untuk meledak kemudian. Bagi yang menyakiti, ia menghadirkan ancang-ancang kebencian juga karena merasa akan dibalas. Dan yang paling menyakitkan, di tengah kabut gelap akan siapa pelaku peledakan, ada banyak anak manusia yang kemudian saling mencurigai. Dan bukan tidak mungkin, menciptakan sungai kebencian di waktu dan tempat yang lain.
Lama sempat saya bertanya pada air mata dan kesedihan. Mengadu pada derita dan tangisan. Mencari jawaban pada cahaya matahari yang jadi saksi. Sampai suatu waktu ada rangkaian tulisan yang muncul di depan mata : "The kingdom of heaven is not a place, but it is a state of mind". Surga bukanlah sebuah tempat, melainkan sebuah kondisi pikiran.
Dalam sinar-sinar kejernihan seperti ini, pasti ada alasan kenapa kebencian itu diciptakan. Bisa jadi, kebencian diciptakan tidak semata-mata sebagai sumbernya dendam. Air mata duka mungkin tidak diciptakan untuk mengesahkan petaka berikutnya. Derita juga tidak diniatkan sebagai hukuman apa lagi kutukan bagi jiwa.
Semakin direnungkan pesan-pesan tentang surga tadi, semakin diri ini sadar : ada kemuliaan-kemuliaan yang tersembunyi di setiap kebencian, tangisan, derita dan air mata. Kebencian dilahirkan bukan sebagai bara apinya dendam, tetapi sebagai pembanding sejuknya hawa-hawa cinta. Tangisan bukan diniatkan sebagai pengesahan terhadap pembalasan berikutnya, melainkan tanda-tanda kalau manusia masih memiliki kepekaan. Derita juga bukan kutukan, ia adalah cara sang jiwa mengetuk hati manusia. Air mata duka juga serupa, ia adalah tetesan-tetesan air yang menyejukkan jiwa kemudian.
Bila saja kesabaran berhasil membawa manusia ke dalam sudut pandang seperti ini, mungkin betul kata seorang sahabat : "setiap kejadian yang paling sedih sekalipun, membawa pesan-pesan keutamaan dan kemuliaan". Sayangnya, dalam beberapa kejadian, kesabaran tidak cukup kuat untuk melawan kemarahan dan kebencian. Untuk kemudian, tergelincirlah peradaban ke dalam sungai-sungai kebencian yang tidak bermusim.
Ada sahabat yang mengatakan kalau wewenang manusia hanya berusaha dan berdoa. Dan akan lebih menakjubkan lagi hasilnya, kalau energi-energi usaha ini diberikan pada kesabaran agar ia cukup kuat menggerakkan pandangan-pandangan manusia. Ada yang bertanya, adakah cara yang tersedia untuk itu ?
Saya tidak banyak bisa membantu dalam hal ini. Karena energi-energi kesabaran ada di dalam, dibangkitkan dari dalam, dikendalikan dari dalam juga. Kehadiran orang lain, hanya bisa menghadirkan petunjuk jalan. Dan tugas setiap orang, hanyalah berjalan mengikuti petunjuk jalan tadi. Dan begitu sampai di sana, siapapun akan menemukan bisikan begini : love is patient. Cinta adalah kesabaran. Dan dari sinar cinta inilah kemudian kejernihan, keheningan dan kedamaian terlihat tanpa menyilaukan. Dari sinilah, lambat namun perlahan sungai kebencian yang tidak mengenal musim, kemudian kita keringkan airnya. Bukankah ini warisan yang paling berguna yang bisa diwariskan untuk generasi berikutnya ? ***
Admin Web
0 Comments