Agama berasal dari kata A dan GAM. A yang artinya tidak dan GAM artinya pergi. AGAMA artinya tidak pergi. Sepertinya makna itu yang sering kali digunakan untuk mendefenisikan tentang agama. Agama juga dimengerti sebagai jalan, tutunan, panduan, cara atau pun ajaran menuju jalan-jalan TUHAN. Jalan tidak pernah salah, tapi yang salah manusia mencari jalan.
Jalan dibuat untuk menuntun manusia menuju tempat yang seharusnya dituju. Ketika manusia menyimpang dari jalan bukan jalan yang salah tapi manusia sendiri salah mencari jalan. Terkadang manusia menyalahkan jalan ketika manusia kehilangan tujuannya. Meng-’kambing hitam’kan, mencaci, mengagungkan bahkan sampai menggunakan nama jalan demi kepentingan-kepentingan manusia.
Manusia yang datang dari jalan yang berbeda di suatu persimpangan akan bertabrakan jika tidak saling hati-hati ketika bertemu. Namun lihatlah jalan yang berbeda bertemu dipersimpangan, jalan-jalan bertegur sapa, berdiskusi dan berpelukan penuh mesra. Pernahkan anda lihat jalan bertabrakan ?. Pernahkan jalan berteriak, membenci bahkan memukul anda ketika diinjak, dilindas bahkan dirusak ?. Tapi jalan tetap melayani mahluk lainnya bagaimanapun keadaanya.
Saya tahu anda pasti menjawab: “Ya jalan kan benda mati ?, Apa yang jalan bisa lakukan ?, Jalan kan memang berfungsi seperti itu ? dan lain sebagainya”. Mengeluh, bertanya, tidak puas dengan segala hal tentang penolakan diri sendiri. Tapi saya yakin anda tahu bahwa manusia punya tugas, fungsi dan merupakan mahluk hidup. Jalan menjawab “Manusia kan mahluk hidup ?, Apa yang manusia bisa lakukan ?, Manusia kan berfungsi untuk apa ?. Sudahkan manusia berfungsi dan bertugas sesuai dengan tugasnya ?. Jalan berhak berkata jika diijinkan ” He manusia yang hebat-hebat aku (baca:jalan) tahu aku bukanlah apa-apa bagimu, namun tanpa aku (baca:jalan) kamu tidak akan mencapai tujuanmu, kamu seperti manusia buta dengan mata yang terbuka”.
Namun lihatlah manusia ketika jatuh karena jalan yang berlubang, yang paling pertama jalan berlubang yang disalahkan kemudian menyalahkan yang lainnya. Pernahkan jalan melubangi dirinya ?. Lalu siapa yang bikin berlubang ?. Kasihan sekali posisi jalan sudah melayani, dilindas, diinjak bahkan sering disalahkan, padahal jalan tidak pernah minta dibuat, dilewati bahkan dilubangi. Tapi karena jalan merupakan sebagai pengantar mahluk hidup menuju tujuannya maka jalan akan terus mengantar dan membimbing manusia dengan rambunya untuk mencapai tujuan. Sudah ada rambu yang sesuai manusia terkadang mengacuhkannya bahkan karena saking kreatifnya ada manusia menambah dan membubui rambu-rambu baru atas nama jalan.
Agama samakah nasibmu dengan jalan. Ya agama benda hidup kah ?. Ketika manusia-manusia yang mengaku mengikutimu (baca:agama), tetapi melakukan tindakan yang tidak pernah kau (baca:agama) ajarkan atau manusia mengurangi/menambahkan aturanmu (baca:agama). Tujuanmu (baca:agama) hanya untuk mengantarkan manusia kembali pada TUHAN. Apakah agama pernah mengajarkan untuk merusak, menghancurkan yang tidak baik (menurut versi manusia) dengan yang tidak baik dan tidak terpuji. Lihatlah dirimu agama…
Lihat manusia yang mengaku mengikutimu (baca:agama) menghancurkan benda mati lainnya seperti jalan, tembok, kaca dan lain sebagainya dengan cara yang tidak terpuji (melempari dengan batu, memukul kayu dan sebagainya). Apa salah tembok dan kaca sehingga harus dilempari batu ?. Apa salah batu harus dipakai melempari tembok dan kaca ?.
Lihat manusia yang mengaku suci dan yang mengaku mengikutimu (baca:agama) bertindak katanya dengan rambumu yang bernama kebenaran. Menghancurkan tempat maksiat seperti diskotik dan semacamnya (katanya manusia yang mengaku suci). Lho kok tempatnya yang dilempari dan dihancurkan apalagi kalau menjelang hari jadianmu agama (hari suci). Apa tempat, tembok, batu dan kayu sehingga harus dihancurkan. Mintakah tempat, tembok dijadikan aktifitas maksiat ?. Kalau boleh tempat memilih pasti tempat akan memilih sesuatu yang baik, namun sayang tempat benda mati. Manusia-manusia yang mengaku beragama entah karena lupa rambu agama atau menambah rambu agama melakukan hal yang bersifat menghancurkan. He agama pernahkan engkau memberikan petunjuk untuk menambah atau mengurangi rambumu. Setahuku agama bukanlah undang-undang yang seenaknya bisa dikurangi atau ditambahkan begitu saja.
Sayangnya manusia tadi melakukan hal itu dengan menggunakan dan mengatasnamakan namamu (baca:agama) karena mereka menganggap sesuai dengan rambumu. Kasihanlah dirimu (baca:agama) setulusnya mengantarkan manusia menuju jalan TUHAN yang sejati tetapi malah dirimu (baca:agama) dijadikan simbol ke-angkara-an dan ke-aku-an manusia. Mereka merasa hebat karena memahami dirimu (baca:agama) dengan sangat dalam. Kalau saya boleh memberikan pantun kepadamu (baca:agama) : “Naik pohon durian, sudah jatuh tertimpa tangga tertimpa buah durian lagi”. Kasihan dirimu agama.
Suatu saat agama akan bertegur sapa dan berdiskusi dan menunjukkan kepada manusia. He manusia, aku (baca:agama) akan membimbingmu menuju jalan sejati menuju TUHAN, walaupun kami (baca:banyak agama) berbeda namun menuju satu titik pusat yang sama (TUHAN). Berpeluk eratlah seperti kami untuk menuju ke tujuan yang sama (TUHAN). He manusia berjalanlah diatasku (baca:agama), aku (baca:agama) yang akan membimbingmu menuju TUHAN. Tapi ingat jangan menambahkan atau mengurangi rambuku (baca:agama) sehingga akan membuat manusia lain kebingungan. Berjalanlah segera membawa dirimu manusia, ingat jangan mencoba menyeret manusia lain (mungkin mereka berbeda jalan) untuk mengikutimu, biarkan mereka menemukan jalannya masing-masing.
Orang suci, bijaksana dan menjalani jalan TUHAN tidak akan pernah menghakimi manusia lainnya.
Admin Web
0 Comments